Sebutir Harapan Penembus Impian...
( Cerita Inspiratif )
( Cerita Inspiratif )
by Bagas.
Ridwan
Jaelani namaku, atau sering dipanggil dengan nama Ridwan. Aku
berprofesi sebagai mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di kotaku,
Universitas Samudra tepatnya. Selain berprofesi sebagai seorang mahasiswa, aku
juga memiliki profesi sampingan, yaitu sebagai abang penjual bakso yang selalu
mangkal di perempatan sudut taman kota. Tak jarang aku juga menjajakan
daganganku itu, sambil kudorong gerobak hingga berkeliling kesana kemari. Hal
ini kulakukan, sebelum aku mangkalkan daganganku ditempat biasa.
Dalam keseharianku ini, aku harus
pintar membagi waktu sebaik-baiknya. Mengingat aku merupakan seorang mahasiswa,
yang pastinya tak terlepas dari aktivitas kampus sekaligus sebagai abang penjual bakso, di perempatan
sudut jalan sana. Dimana biasanya waktu dari pagi hingga siang, aku selalu
berkutat dengan yang namanya perkuliahan, dan terlepas dari waktu luar kampus
ketika sore mulai menjelang, aku telah siap-siap untuk menjajakan dagangan
baksoku dan tak jarang hingga sampai larut malam ini kulakukan, besok paginya
aku harus kembali kuliah. Terkadang diriku menyadari, terasa letih bercampur
lelah memang, tapi apa boleh buat namanya juga hidup untuk mencapai kesuksesan
pasti butuh yang namanya proses.
Bagiku, pendidikan itu harus bisa
semaksimal mungkin ku raih. Karena
dengan komitmen yang tinggi yang kumiliki, dengan ilmu pengetahuan yang telah
kudapat, aku harus bisa menjadi seorang yang dapat dibanggakan bagi keluarga
dan bisa bermanfaat bagi orang banyak. Semangat itu kutempuh, dari jalur
pendidikan yang aku geluti mulai dari sekolah dasar hingga bangku keluarga kuliahan
ini. Ditambah lagi, saat ini aku menjadi tulang punggung keluarga, menggantikan
peran bapakku yang telah tiada. Bebanku seakan semakin menjadi-jadi dan terasa
berat saja. Karna akulah harapan yang saat ini paling diandalkan dalam keluarga
terutama oleh ibuku, mengingat aku merupakan anak tertua dari orang tuaku. Aku
memiliki orang tua yang hanya berpenghasilan dari pedagang kelapa. Hal Itu terjadi ketika bapak masih ada. Ketika
bapak telah tiada, ibuku menggantungkan hidupnya dari berjualan sapu lidi di
pasar.
Aku memiliki tanggungan, selain
ibuku ada tiga orang adikku yang masih butuh biaya untuk makan dan sekolah
mereka. Sebagai seorang anak, aku haruslah berbakti kepada orang tua. Dan
sebagai seorang abang, haruslah menaruh tanggung jawab kepada adiknya,sikap
itulah yang selalu kutanamkan dalam
diriku. Apalagi jika selesai shalat maghrib, aku selalu teringat akan nasihat
dari bapak,
“ Nak, kamu harus jadi orang yang sukses, baik itu di
dunia maupun di akhirat, yang kelaknya dapat bermanfaat bagi keluargamu,
maupun orang lain. Tuntutlah ilmu setinggi-tingginya, sebaik mungkin. Walaupun
kita miskin, janganlah kamu merasa enggan, takut dan khawatir. Selagi ilmu yang
kamu tuntut itu berada di jalan kebenaran, gapai dan ajarkan kepada orang yang
membutuhkan. Insya Allah dengan rahmat dan karunianya, hidupmu tak akan
sedikitpun merasa kekurangan. Walaupun saat ini kita berada di dalam serba
kekurangan itu, tapi Allah SWT itu maha pengasih dan maha penyayang. Ingat nak!
dia tahu apa yang di inginkan hambanya selagi mereka selalu berusaha dan
mempunyai impian yang kuat untuk dapat berubah”
Nasihat
dari bapak inilah, yang saat ini selalu terngiang-ngiang dalam benakku.
Sekaligus menjadi sebuah motivasi berharga bagiku. Semoga amal dan ibadah bapak
diterima disisimu ya Allah, Amiin.
Perjalanan
demi perjalanan dari hidupku selalu aku rekatkan dengan nasihat orang tua
maupun nasihat dari agama. Ini kulakukan supaya hidupku selalu mendapat berkah
dari Sang Maha Kuasa Dengan harapan supaya diri inipun tak salah langkah, dalam
mengarungi samudera kehidupan yang penuh tipu daya ini. Tanpa terasa,
perjalanan perkuliahanku hampir memasuki semester akhir. Ini berarti jika tidak
ada halangan dan hambatan, Insya Allah aku bisa segera menjadi seorang sarjana.
Selain
ingin menjadi seorang sarjana, Lazimnya bak calon orang yang sukses aku
mempunyai cita-cita maupun impian, dimana aku ingin menjadi orang sukses yang
penuh rasa sosial dan memiliki kedermawanan yang tinggi. Mungkin ini hanya
sebutir harapan yang berlandaskan doa dariku kepada Sang Maha Pemberi
Kehidupan. Semoga saja, sebutir harapan ini dapat menjadi penembus impianku
kelak dimasa akan datang. Sehingga dengan begitu, hidup ini semakin bermanfaat.
Seiring dengan hampir selesainya masa kuliahku,
akupun masih sibuk mengurusi daganganku. Dagangan baksoku itu, telah menjadi
sebuah rantai kehidupan bagiku. Karena dari hasil penjualan dagangan bakso
inilah, biaya hidup sehari-hari keluarga maupun perkuliahanku aku gantungkan.
Dibantu oleh ibuku, yang dengan rutinnya selalu menyempatkan diri untuk
membantuku. Seakan tak kenal rasa lelah, dari penat hiruk pikuknya pasar, untuk
menjual sapu lidi buatannya. Ibuku langsung menyempatkan waktunya, untuk
bersiap-siap mengurus dagangan baksoku. Itu selalu dilakukannya, ketika aku
masih berada dikampus. Ia tak menghiraukan rasa lelah yang hinggap ditubuhnya
setiba sampai dirumah dengan menenteng dagangannya, dan langsung saja
menyiapkan segala keperluan untuk daganganku sore nanti. Mulai dari membantu
merebus bakso, merebus mie, dan menyiapkan bumbu-bumbu hingga mangkuk-mangkuk
sebagai wadahnya. Melihat akan sosok ibuku, dia merupakan wanita yang luar biasa bagiku.
Tekad
dan keinginanku semakin bulat saja, untuk selalu berbakti dan menyenangkan
hatinya.Dimana aku mempunyai salah satu impian, untuk sebisa mungkin selalu
membahagiakan beliau dan juga memberangkatkan beliau ke tanah suci mekkah untuk
naik haji. Hal itu ingin ku berikan, Sebagai salah satu bentuk baktiku sebagai seorang anak kepada
ibu. Walaupun aku tahu apa yang kulakukan ini, belum mampu membalas jasa dan
pengorbanannya sebagai seorang ibu terhadap anaknya. Tapi yang kulakukan ini,
adalah bukti bahwa aku menyayanginya. Terima kasih ibu, atas kasih sayangmu
terhadapku.
Mengingat jauh ke belakang,
dulunya dagangan baksoku ini bukan milikku. Tetapi, milik sanak keluargaku yang
mempercayai dagangannya kepadaku. Aku hanya disuruh untuk menjajakannya, dengan
upah 25 ribu setiap kali berjualan. Alhamdulillah dari upah 25 ribu itulah,
sedikit demi sedikit aku bisa mengumpulkan uang untuk biaya masuk disalah satu
PTN di kotaku, yang telah aku idam-idamkan sedari dulu sebelum aku menjadi
seorang mahasiswa.
Langkahku pun tak berhenti sampai
di situ, dengan bermodalkan sisa-sisa dari tabunganku, ditambah modal
keberanian dan keyakinan yang kuat. Akhirnya, aku bisa membuka dagangan bakso
sendiri. Walaupun kecil-kecilan di kala itu, dan saat ini sudah ada
perkembangan. Dan jadilah nama dagangan baksoku itu, dengan sebutan bakso Jali
Ali yang selalu terpampang jelas di kaca gerobak yang sering nongol namanya
diperempatan sudut taman kota. Nama Jali Ali sendiri merupakan nama singkatan,
yang berarti “Jangan dilihati ayo beli”. Sengaja ku memakai nama itu, supaya ada ciri khas di
setiap penyebutan nama untuk dagangan baksoku ini, sehingga orang-orang gampang untuk mengingatnya.
Aktivitas di dalam kampusku
sendiri, merupakan aktivitas yang aku senangi, selain daripada aktivitas lain
yaitu berjualan bakso. Karena di dalam kampus ini, selain aku mengikuti
perkuliahan dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Disini juga aku bertemu dengan
berbagai karakter anak negeri yang tentunya berpotensi menjadi orang besar,
jika mereka mempunyai semangat juang untuk berhasil. Aku pun sering
berinteraksi dengan mereka. Layaknya seorang mahasiswa yang aktif, tak jarang
juga aku bertukar pikiran dengan mahasiswa lain, teman-temanku, atau juga
para dosen. Biasanya yang terbahas mengenai pendidikan, ilmu pengetahuan, dan masalah sosial lainnya.
Tapi diantara dosen-dosen yang aku kenal, ada seorang dosen yang membuat aku mengaguminya. Walaupun dia bukan seorang dosen dari
kampusku, dia bernama Pak Legiman. Menurutku Pak Legiman merupakan sosok yang sangat hebat, terutama
dimataku. Dari cerita-cerita pengalaman yang aku dengar dari seorang temanku, memberikan sentuhan
motivasi yang membuat aku lebih bersemangat lagi dalam menempuh yang namanya
kesuksesan. Kisah dari perjalanan kehidupannya bermakna dari tiada menjadi ada.
Biasanya aku juga
selalu bertukar pikiran mengenai impian masa depan. Tak jarang,
semangatku pun
meluap-luap mencakup suatu perubahan yang terbaik dimasa depan. Karena
menurutku, sebuah karya besar itu berawal dari yang namanya impian.
Semangat
yang selalu terpancar dari diriku, mengenai masa depan yang lebih baik.
Ternyata diikuti juga oleh beberapa temanku di kampus maupun lain kampus.
Senang rasanya bisa berbagi semangat bersama teman-teman sesama mahasiswa.
Apalagi mereka merupakan teman-teman terbaikku, yang aku sendiri telah
mengetahui karakter mereka masing-masing.
Dan
mereka adalah ,
Ainun,
Amin, Ayu, Bagas, Dedi Devi, Eva, Faisal, Feru, Intan, Khalidi, Nita, Opi, Rahmad, Reza,
Riby, Risti, Rita,
Sarah, Sari, Sugandha, Sulman,
Syahrul, Yani, dan Yunus.
Mereka-mereka
inilah merupakan deretan nama dari beberapa bahkan ratusan ataupun ribuan,
anak-anak negeri yang mempunyai visi dan misi dalam dedikasinya demi kemajuan
bangsa di masa depan. Aku sangat bangga dan bersyukur mengenal mereka, bagiku mereka adalah calon
putra-putri terbaik bagi bangsa maupun negara.
Setiap
kali ada kesempatan, aku maupun teman-temanku pastilah menggelar
kegiatan sosial. Menurutku, kegiatan atas nama hati nurani seperti ini harus
lebih sering di galakkan. Walaupun, saat
ini aku masih berjuang dalam kerasnya kehidupan. Tapi hatiku selalu tergugah
untuk bisa menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Agamapun
selalu mengajarkan seperti itu,
“Sebaik-baiknya manusia ialah manusia yang bermanfaat
bagi orang lain”.
Dimana
dalam kegiatan ini, nilai-nilai kehidupan yang terkandung didalamnya begitu
istimewa. Sebab, kegiatan sosial yang
kami lakukan merupakan ajang untuk meringankan beban penderitaan
saudara-saudara kami yang membutuhkan. Tak jarang juga bakso-bakso dari dalam
gerobak daganganku itu, dijadikan salah satu sarana saling berbagi bagi
anak-anak yatim piatu di salah satu yayasan yatim piatu dikotaku. Dengan cara
memberikan makanan, semangkuk demi semangkuk bakso gratis dan juga uang
santunan kepada mereka.
Indah
terasa nian, bila kita bisa melakukan sesuatu yang sangat bermanfaat seperti
ini. Apalagi bisa memberikan makan kepada anak yatim piatu, mengusap rambutnya
saja sudah berpahala, apalagi bisa berbagi untuk sekedar menghibur seperti ini.
Rasa syukur dan doaku pun tak henti-hentinya terlantun syahdu untuk kebesaran
Sang Maha Pencipta,
“Alhamdulillah, Terima kasih ya Allah, engkau masih
mengingatkanku dari indahnya saling berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Jadikanlah
aku hambamu yang benar-benar bersyukur dan selalu ingat atas karuniamu” Amiin.
Kegiatan-kegiatan
sosial yang aku dan teman-temanku lakukan, secara tidak sengaja mengantarkanku
pada kisah romantika layaknya anak muda yang sedang kasmaran. Sebab, berawal
dari kegiatan sosial ini. Aku dipertemukan oleh seorang wanita yang membuat isi
hatiku berdetak degum kencang. Seorang wanita itu bernama Laras Indah Wati.
Laras merupakan seorang wanita yang kulihat
sangat bersahaja dan penuh dengan kesan kesederhanaan. Mungkin wanita seperti
Laras inilah, yang kunanti saat ini. Awalnya perkenalanku dengan Laras terjadi
ketika, aku dan teman-teman mendatangi sebuah taman bacaan bernama senyuman
mentari.
Kamipun
saling berkenalan,,
“Ridwan!”
aku memperkenalkan diri, sambil mengajak bersalaman.
“Laras!” diapun
membalasnya.
Disini kami
melakukan kegiatan, memberikan suguhan-suguhan berbentuk motivasi untuk
anak-anak yang ambil bagian didalam taman bacaan ini. Dimana semuanya
ini, bertujuan untuk sebisa mungkin mengarahkan kepada anak-anak di taman
bacaan ini, untuk
berani bermimpi dan mengetahui bagaimana caranya bisa merangkai mimpi-mimpi
mereka, agar bisa menjadi apa yang mereka cita-citakan kelak.
Pada
kesempatan kali ini, temanku yang bernama Rita Susila yang memberikan suguhan motivasi.
Rita
pun mulai menyapa mereka, dengan memberikan salam.
“Assalamualaikum..! Semuanya…?”
“Walaikum
salam…!” mereka
menjawab salam dengan semangatnya.
“Apa kabar semuanya hari ini...?”
“Alhamdulillah
bu..!” “Baik..!” jawab
mereka.
“Alhamdulillah..!” “kalau begitu..?”
“Nah..! sekarang..! ibu mau tanyak..!”
“Siapa yang disini..! Yang punya impian atau cita-cita?”
“Saya bu..!”
“Saya!”
“Saya!”
“
Saya bu..!”
mereka semua dengan
cepatnya menunjuk tangan.
“Wah..! Bagus sekali..!” Rita
pun memuji mereka.
Dan
melanjutkan,
“Yang namanya
impian atau cita-cita itu?
harus ada didalam diri kita masing-masing?”
“Kenapa?”
“Karena, impian itu adalah sebuah kunci!”
“Karena, impian itu adalah sebuah kunci!”
“Kalau kita ingin jadi orang yang sukses
kelaknya.”
“Sebab!”
“Impian
inilah yang akan membawa kita pada suatu kecermelangan hidup!”
“Dimana?
“
Didalam sebuah impian itu,
terdapat yang namanya tujuan dan harapan..
yang Insya Allah? jika kita sungguh-sungguh
meraihnya.. Dengan usaha dan do’a.. impian ini akan menjadi sebuah kenyataan”
“Jadi?
“Mulai
sekarang?
“beranilah
bermimpi!”
“Bermimpilah
setinggi langit?”
“Jangan pernah takut
jatuh!”
“Walaupun
kita jatuh..!
Kita akan jatuh diantara bintang-bintang yang berkilauan!”
“Kilauan bintang itulah, yang membawa kita
untuk bangkit kembali”
“Kilauan bintang itu adalah
semangat diri kita!”
“
Mulai dari sekarang!” marilah kita bersama-sama untuk selalu bersemangat meraih impian kita”
“Setuju!” Rita pun mulai membakar semangat
mereka.
“Setuju
bu….!” Mereka pun meneriakkan dengan lantangnya.
“Baiklah, kalau kalian setuju!”
“Sekarang
ibu minta..?”
mari kita sama-sama menyanyikan lagu laskar pelangi..?” biar kita tambah semangat!”
“Ayo bu..! Jawab mereka.
“Ok! Satu.. dua.. tiga!” Rita memberikan aba-aba.
“Mulai!”
“ Mimpi.. adalah kunci.. untuk kita.. menaklukan
dunia..”
“Menarilah.. tanpa lelah.. sampai
engkau meraihnya..”
“Laskar.. pelangi.. takkan terikat..
waktu..”
“Bebaskan.. mimpimu.. diangkasa..”
“Warnai.. bintang di jiwa...”
“Menarilah.. dan terus..
tertawa..”
“Walau..
dunia.. tak seindah.. surga..”
“Bersyukurlah..
pada yang.. ku.. asa…”
“Cin..ta..
kita.. di dunia..”
“Se..
la..manya..” se..la..manya..”
Alhamdulillah, ketika kegiatan itu
berlangsung, respon dari anak-anak sangat tinggi antusiasmenya. Dimana mereka
mendengarkan dengan tenang dan tak jarang memberikan pertanyaan kepada kami. Peran laras sendiri di dalam
kegiatan ini pun amat penting.
Laras`sendiri
ternyata penyuplai maupun penyumbang buku-buku bacaan ke taman bacaan senyuman
mentari. Tak hanya buku-buku saja yang dia sumbangkan, tetapi pikiran maupun
tenaga juga dia sumbangkan. Sebab, dia selalu berperan aktif dalam mengajarkan
ilmu pengetahuan kepada anak-anak itu. Takjub, itulah kata yang tepat untuk
menggambarkan sosok wanita yang peduli dan mempunyai rasa sosial demi memajukan
pendidikan bagi anak negeri. Dan cerminan itu, bisa dilihat dari sosok Laras yang begitu sederhananya. Dari
taman bacaan senyuman mentari inilah, kami mulai saling berkomunikasi.
Melihat
latar belakang kehidupan dari Laras. Laras merupakan anak dari seorang kalangan atas, yang memiliki
harta serba wah. Sangat jelas, bertolak belakang dengan latar belakang kehidupanku.
Kupikir ketika pertama kali bertemu,Laras merupakan wanita dari kalangan orang
biasa-biasa saja.Aku juga sempat merasa terkejut ketika mengetahuinya. Tapi
sifatnya tidak menunjukan sifat ke glamoran, layaknya para wanita-wanita lain
yang di kelilingi harta bergelimpangan yang hanya taunya hanya bisa
berpoya-poya, shopping ataupun nongkrong-nongkrong di tempat yang elit atau
gaul. Dengan gaya kesederhanaan yang dia miliki, Laras pun tidak canggung untuk
berinteraksi dengan siapa saja, termasuk diriku. Selalu ada perasaan yang
berbeda setiap kali aku melihat dan menatap matanya. Sungguh sinar binar matanya memberikan gambaran
betapa anggunnya
dirinya. Akupun terkesima dibuatnya. Semakin dalam saja, perasaan hatiku
terukir namanya.
Pernah
sewaktu-waktu di jam sore hari, Laras melintasi perempatan jalan taman
kota. Betapa kagetnya dia, ketika
melihatku sibuk berjualan bakso dan melayani para pembeli. Lalu mengetahui
bahwa, selain aku seorang mahasiswa yang sering melakukan kegiatan sosial,
ternyata aku seorang abang penjual bakso. Diapun sempat singgah dan berkata,
“Wah!
Tak disangka! Seorang Ridwan ternyata memiliki usaha bakso..”
Aku pun tersenyum dan menjawabnya,
“
Iya ni Ras, cuma usaha kecil-kecilan..”
“Mari! Silakan duduk!”
Lalu
dia mengampiriku dengan senyuman manis diwajahnya dan menikmati semangkuk
bakso dariku.
Esoknya,
dia datang kerumahku. Setelah kemarinnya sempat meminta alamat rumahku.
Kebetulan, aku lagi tak ada waktu kampus dikarenakan hari libur. Kami pun
mengobrol, seputar kehidupan kami dan tentang hal-hal lainnya. Selain mengobrol
denganku, dia juga mengobrol dengan ibuku dan juga tak lupa menyapa adik-adikku. Dalam sela-sela
pembicaraan kami. Laraspun memujiku. Dia kagum akan semangat perjuangan
hidupku.
Waktu
pun semakin berjalan dengan cepatnya, tak terasa perkenalanku dengan Laras pun
semakin jauh saja. Akhirnya akupun tak sabar ingin mengungkapkan perasaan sayangku padanya.
Perasaan bahwa aku telah lama jatuh hati padanya. Tapi kurasa, semua itu harus
menunggu suatu yang tepat. Karena aku tak mau terlalu mengikuti rasa
keinginanku, bisa saja ketika aku mengungkapkan rasa sayangku terhadapnya, itu
bukanlah suatu yang tulus yang keluar dari dalam hatiku. Tapi lebih terbawa
oleh nafsu semata saja. Jika terlalu mengikuti rasa keinginan, yang
menggebu-gebu. Aku harus lebih sabar dan bijak. Tapi yang jelas, Laras
merupakan sosok calon ibu yang tepat bagi anak-anak ku kelak. Diri ini tetap
menunggunya untuk saat yang tepat, dan sekarang fokusku, ku optimalkan ke
jenjang perkuliahanku terlebih dahulu. Dimana dalam perjalanannya ada sebuah
impian maupun cita-cita yang harus kuraih. Jika semuanya itu telah terjadi,
segala impian dan cita-citaku telah dapat teraih. Tanpa ada keraguan, aku
bersiap menjadikan Laras sebagai ibu bagi anak-anakku.
Tak terasa waktu kuliahku telah
terselesaikan, kurang lebih hampir 4 tahun aku menghabiskan waktu dalam bangku
perkuliahan. Kini aku sudah resmi, menjadi seorang sarjana. Senang rasanya
dapat meraih salah satu impianku khususnya di dalam bidang pendidikan. Diri ini semakin percaya
diri saja,untuk menjadikan diri ini bermanfaat bagi diriku sendiri maupun orang
lain. Alhamdulillah, mungkin ini berkat do’a dan usaha kerasku, akhirnya
keinginan menempuh pendidikan sebaik-baiknya dapat terealisasikan. Seiring
dengan telah berhasilnya aku menjadi seorang sarjana, usaha baksoku mengalami
perkembangan yang amat pesat. Dimana secara tidak sengaja, aku mendapatkan
modal dari kenalanku yang berprofesi sebagai seorang pengusaha.
Pengusaha
itu bernama Zacky, awalnya kami dipertemukan lewat seminar umum yang diadakan
oleh kampusku sebelum aku di wisuda. Kebetulan dia duduk di sebelahku, kamipun
saling mengobrol untuk saling bertukar pikiran. Dia tertarik kepadaku setelah
tahu bahwa aku mempunyai usaha bakso, lalu menyampaikan keinginannya untuk
bekerja sama, dalam bidang usaha makanan dengan memberikan pinjaman modal
dengan tujuan pengembangan usaha. Percakapanpun berjalan dengan alotnya, kami
pun membuat kesepakatan setelah menyakinkan satu sama lain. Sehingga
terjalinlah suatu kerja sama antara kami. Seminar umum dikampusku itu bertajuk,
“ Pengusaha muda pembangun negeri “.
Dalam
seminar ini dibahas tentang, bagaimana peranan-peranan para pengusaha muda
dalam dedikasinya terhadap kemajuan di negeri ini. Banyak tamu-tamu undangan
yang hadir dalam acara seminar ini, tak terkecuali tokoh-tokoh nasional. Dan
sosok tokoh yang hadir yaitu salah satu tokoh pendidikan di Indonesia, Bapak
Anies Baswedan. Beliau merupakan pendiri maupun penggagas dari sebuah
organisasi yang bernama Gerakan Indonesia Mengajar. Akupun sempat berbicara
sedikit dan berjabat tangan kepadanya. Kebetulan pembicara pada kesempatan
seminar umum ini yaitu salah satu tokoh pengusaha sukses Indonesia, Bapak
Chairul Tanjung atau yang sering dikenal dengan sebutan si anak singkong, lewat
nama dalam judul buku otobiografinya yang menjadi best seller.
Bapak Chairul Tanjung menyempatkan
diri untuk hadir, mengingat beliau banyak sekali kesibukkan diluaran sana.
Pemilik CT Foundation dan Trans Corp inipun, berbicara dalam kesempatannya.
Pentingnya sebuah peranan yang di hadirkan oleh para pengusaha muda.
Dikarenakan, para pengusaha muda ini merupakan sebuah aset yang sangat berharga
baik di masa sekarang maupun dimasa depan bagi kemajuan negeri, khususnya dalam
sektor perekonomian. Dari sektor perekonomian inilah, bisa memunculkan
gagasan-gagasan atau juga wacana yang kompeten dalam membuat sebuah rancangan
bagi kemajuan perkembangan bagi bangsa ini. Misalnya saja dalam bidang
pendidikan dengan cara memberikan bantuan beasiswa, keseterdiaan lapangan pekerjaan dengan cara
membuka usaha-usaha baru, dan juga pembangunan-pembangunan infrakstruktur yang
terkait bagi kesejahteraan, yang sifatnya memajukan demi melancarkan target
yang dipedulikan.
Tak lupa di akhir pembicaraannya,
beliau berpesan kepada kami agar para generasi muda haruslah menjadikan dirinya
sebagai pilar-pilar pembangunan yang kuat, demi terciptanya kemajuan yang
membawa ke perubahan, agar kelaknya dapat menjadikan dirinya suatu yang dapat
dibanggakan maupun bermanfaat bagi negara ini. Hal itu dapat terealisasikan,
salah satunya jika menjadi seorang pengusaha.
Hari-hari
dalam perjalanan hidupku, semakin lama semakin lapang saja. Beban-beban hidup
yang dulunya terasa berat, kini semakin ringan saja. Alhamdulillah, hidupku
telah ada perubahan. Kini aku tak lagi berjualan bakso diperempatan taman kota
lagi, melainkan berjualan di dalam ruko yang aku tempati. Tapi, kesan dagangan
bakso dari cara lamaku tetap ku pertahankan. Dimana gerobak, yang berhias nama
Jali Ali tetap terpajang disana. Hal ini kulakukan, karena gerobak baksoku itu
merupakan salah satu bukti perjuanganku dalam bertahan hidup, yang akan selalu
terkenang.
Tak hanya bakso yang kini aku
jual, banyak menu-menu makanan atau minuman yang baru dan variatif yang aku
tawarkan kepada pengunjung. Ini kulakukan mengingat, banyaknya permintaan
konsumen akan makanan atau minuman yang variatif. Tapi menu utama dari usahaku
tetap bakso jali ali. Terbukti, pengunjungpun semakin ramai saja berdatangan.
Mulai dari kalangan biasa, sampai orang-orang
penting, pernah singgah untuk menikmati menu-menu makanan atau
minuman yang ditawarkan dari usaha makananku ini. .
Tak kusangka, berkat usaha, doa
dan kerja kerasku yang selama ini kulakukan, akhirnya apa yang aku cita-citakan
dahulu, lambat laun menjadi sebuah kenyataan. Alhamdulillah, rasa syukurkupun
tak henti-hentinya terlantun untuk kebesaran Sang Maha Pencipta. Apa yang
terjadi sekarang, semakin saja mempermudahkanku didalam urusan kegiatan sosial.
Kegiatan-kegiatan sosial yang sekarang kulakukan, jangkauannya semakin luas
saja. Kini aku telah dapat mendirikan taman bacaan yang telah aku idam-idamkan sejak
lama. Taman bacaan Sang Pemimpi namanya.Taman bacaan ini tak hanya aku sendiri
yang mengurusnya.
Akan tetapi, aku dibantu oleh beberapa temanku yang mempunyai visi maupun
misi yang sama sepertiku.
Taman bacaan yang kudirikan dan
kegiatan-kegiatan sosial yang terdapat didalamnya, ternyata tanpa ku menduga
terpantau oleh sebuah acara televisi dari stasiun televisi swasta, Metro Tv.
Dan aku sebagai pendiri dari taman bacaan, di undang untuk dapat hadir diacara
tersebut sebagai narasumber. Dimana acara televisi tersebut merupakan sebuah
tayangan inspiratif, yang dipandu oleh Andy F.Noya dalam acaranya Kick Andy.
Dalam kesempatan inipun, aku
bersedia datang ke sana, lalu langsung melakukan sesi persiapan untuk
acara Kick Andy ini. Banyak sekali yang mengapresiasikan kedatanganku, ketika
aku datang kesana. Sebelum acara dimulai, mulai dari kru sampai produser
memberikan sambutan kepadaku. Tak Ketinggalan juga bang Andy pun memberikan
sambutan hangatnya. Akhirnya yang dinanti-nantipun datang juga, didalam studio
akupun langsung di panggil oleh bang Andy. Setelah dia membuka acara, dengan
judul “Berdedikasi Demi Negeri”. Kita
panggilkan Ridwan, bang Andy pun memanggil namaku. Tepuk tangan penonton
didalam Studio pun menggelegar
kesana kemari memenuhi isi studio.
Langsung
saja, ketika aku telah duduk sesaat, Aku diberikan beberapa pertanyaan oleh
Bang Andy, salah satunya pertanyaan tentang mengapa mendirikan Taman Bacaan.
Bang Andy pun bertanya kepadaku,
“ Kok bisa sih,
seorang Ridwan ini. Ada keinginan untuk mendirikan Taman Bacaan? Padahal, Anda kan seorang pengusaha
yang pastinya selalu sibuk dengan bisnis-bisnis yang sedang dijalani,
terutama bisnis makanan yang anda kelola”.
Aku pun
memberikan jawaban ,
“Saya mempunyai
keinginan dalam hidup , agar hidup saya ini, bisa bermanfaat bagi diri sendiri
maupun orang lain. Kitapun sudah mengetahuinya, dalam agamapun mengajarkan
seperti demikian. Jadi, melalui taman
bacaan yang saya dirikan ini. Semoga
saja, dapat menjadikan sarana pengetahuan dalam mencetak anak-anak negeri yang
unggul, cerdas, kompeten dan bersiap bersaing di era globalisasi yang semakin
berkembang ini. Khususnya dimasa yang akan datang. Hal ini bertujuan, demi
membawa kearah perubahan yang lebih baik dan mengantarkan pada kemajuan bangsa”.
Sontan saja ketika aku selesai bicara, para
penonton bertepuk tangan mengaspresiasikan jawaban dariku. Tepuk tangan dari
ratusan penonton yang hadir, semakin membuatku semangat untuk bisa berbuat
suatu yang lebih bermanfaat lagi kedepannya. Akhirnya acara Kick Andy pun
selesai, setelah satu per satu bang Andy
memanggil tamu yang terdiri dari beberapa narasumber yang berbeda. Sebelum
berpisah meninggalkan studio, bg Andy pun meminta untuk berfose bersamaku.
“Biar jadi kenangan wan”. Kata
dia sambil tersenyum.
Lalu
aku pun berpamitan dengan bg Andy dan kru maupun produser untuk meninggalkan
studio.
Dari
acara kick Andy inilah, dimana aku langsung menjadi narasumbernya. Secara
perlahan memberikan dampak baik yang begitu signifikan. Karena banyak orang
yang telah mengetahui adanya sebuah taman bacaan yang bernama Sang Pemimpi.
Banyak organisasi maupun perusahaan bahkan perorangan, yang ingin memberikan
sumbangsihnya untuk taman bacaan ini. Tak ketinggalan juga, ternyata sekelas
Menteri BUMN yaitu bapak Dahlan Iskan. Ingin berpartisipasi dalam taman bacaan
ini. Beliau memberikan sumbangsihnya lewat program gerakan 1000 buku, yang ada dibawah naungan Kick Andy
Foundation, dengan menyumbangkan buku tentang dirinya yang berjudul
Sepatu Dahlan, akupun
menerimanya dengan senang. Karna semakin bertambah saja koleksi buku-buku yang variatif maupun inspiratif yang
memenuhi rak-rak dan lemari-lemari dari taman
bacaan ini. Terima kasih Pak Dahlan atas partsipasinya.
Cerita
maupun kisah tentang seputar kehidupanku yang aku paparkan melalui acara Kick
Andy, ternyata membuat seorang penulis tertarik akan kisahku. Dia adalah
Raditya Dika. Seorang penulis muda yang kreatif dan penuh imajinasi, bahkan
seorang comic (Stand up Comedy) yang saat ini di gandrungi oleh para generasi muda. Dia mendatangi ku langsung, saat aku berada
di taman bacaan Sang Pemimpi. Betapa kagetnya aku, ketika seorang public figure seperti dirinya, rela-rela
datang jauh-jauh dari ibukota Indonesia yaitu Jakarta ke tanah Aceh tepatnya kota
Langsa menuju ke taman bacaan Sang Pemimpi. Dia mengungkapkan keinginannya
untuk mengangkat kisahku dengan dijadikan sebuah novel. Aku pun merasa
tersanjung dengan keinginannya itu. Dan jadilah novel dari kisahku itu, dengan
judul Jali Ali “ Jangan dilihati Ayo Beli”
karya Raditya Dika.
Perjalanan dari seputar
kehidupanku pun
masih berlanjut, di sela-sela kesibukkanku sebagai seorang pengusaha dan
pengurus taman bacaan. Diri ini tak lelah, untuk selalu memikirkan caranya
untuk selalu berbenah diri. Karena menurutku berbenah diri itu, memang sangat
diperlukan. Supaya untuk kedepannya bisa menjadi lebih baik lagi. Untuk
mempermudahkanku dalam bebernah diri, aku mempunyai keinginan untuk menyaksikan
tayangan motivasi. Aku ingin mendatangi sebuah program yang ada di stasiun
televisi swasta, Metro Tv
dan menontonnya
secara langsung. Dimana acara ini bernama Golden Ways dipandu oleh
presenter, Hilbram Dunar dan seorang Motivator terkenal Pak Mario Teguh.
Program ini merupakan sebuah acara yang menyuguhkan segala bentuk motivasi
menurut kebutuhan dan keperluan yang disampaikan langsung oleh Pak Mario Teguh.
Ketika acara telah berlangsung,
Pak Mario Teguhpun tak segan-segan mengeluarkan kata-kata mutiara miliknya,
“Aku
Tahu aku tidak seutuhnya sempurna, Tapi pasti ada sesuatu dalam diriku yang
sangat indah. Tuhan mampukanlah aku untuk menggunakan sekecil-kecilnya
kemampuanku untuk mencapai sebesar-besarnya cita-citaku”
Dan
langsung saja
memukau orang-orang yang ada didalam studio. Tak terkecuali aku, akupun sangat
terkesima dibuatnya. Kata-kata nan bijak dan memukau yang aku dengar langsung
dari mulut orang bijak yang kulihat. Suguhan motivasi yang diberikan oleh
beliaupun, semakin membuatku bersemangat dalam menyambut hari esok yang lebih
baik lagi. Terima kasih ya Allah, Kau telah membuat
hidupku semakin berwarna saja. Rasa syukurku pun tak bisa tertahan oleh
kata-kata.
Setelah
aku melihat acara Mario Teguh Golden Ways, akupun kembali ke kotaku. Dengan
menaiki pesawat, aku menuju ke bandara. Tapi disaat aku menunggu waktu pesawat
lepas tandas, aku dikejutkan oleh seorang wanita yang sangat tak asing
dimataku. Dia adalah seorang Laras yang kukenal.
“Laras!” aku pun menegurnya.
“
He! Ridwan disini juga rupanya?” jawabnya.
Wah indah nian terasa, disaat seperti ini aku
bisa berjumpa kembali bersama dia. Cerita punya cerita, Laras ternyata
melanjutkan studinya di salah satu Universitas ternama Indonesia. Dan sekarang
studinya telah selesai, dia seakan ditakdirkan kembali untuk menjadi bagian
dari sejarah hidupku.
Kini
aku sangat yakin bahwa Laras memang benar-benar sesosok wanita yang kuharapkan
mampu menjadi pendampingku, khususnya dalam kehidupan sehari-hari yang ku
jalani ini. Wah, sungguh bersyukur diriku ini. Jika memang Sang Maha Pemberi
cinta merestui hubunganku bersamanya. Tak lepas pandanganku melihat keanggunan
dari wajahnya, yang seakan memancarkan kesan kasih sayang. Kata kedamaian, inilah kata
yang tepat untuk menggambarkan ungkapan hatiku untuk seorang wanita yang
bernama Laras.Terima kasih ya Allah, engkau telah mempertemukan aku dengan dirinya.
Dalam
kesehariannya pasca sarjana, Laras mulai kembali aktif melakukan
kegiatan-kegiatan yang sering dia lakukan yaitu mengurusi taman bacaan senyuman
mentari. Dia pun tak enggan meminta bantuanku, untuk sekedar memberikan
beberapa suguhan-suguhan yang berguna, baik itu bersifat moril maupun
inspiratif demi kelancaran taman bacaan senyuman mentari sendiri. Sungguh diri
ini merasa berbahagia, jika diri ini bisa melakukan sesuatu yang bernilai
positif bagi orang lain. Apalagi bisa melakukan sesuatu yang bernilai positif ,
dilakukan bersama-sama dengan seseorang yang kita sayang, hmm.. benar-benar sebuah pendekatan diantara
kami, yang Insya Allah menjadi berkah bagi kami berdua. Semoga saja.
Hari-hari
yang kujalani ini secara pribadi, memberikan kesan tersendiri khususnya bagi
diriku. Bisa dibilang, dalam keseharianku ini apa yang kulakukan semakin
memberikan warna atau corak yang begitu jelas didalamnya. Hal ini telah tersadari
oleh dirku, ketika seseorang itu, mulai mengisi kekosongan hati akan indahnya
kasih sayang. Padahal jika mengingat akan masa laluku, yang berhubungan
menyangkut perasaan. Bisa dibilang, lebih banyak gagalnya dibandingkan suksesnya. Tapi aku menanggapi itu semua
dengan sebuah kalimat,
“Semua
itu karena Allah”. Cukup!
Salah
satu dari ceritaku tentang gagalnya menjalin sebuah hubungan dimulai dari,
ketika aku mulai merasakan saat indahnya
jatuh hati kepada seorang wanita, tapi apa boleh buat seorang ridwan kecil
belum mampu membuat hati seorang wanita yang di rasa di sayanginya menjadi
bergetar. Malah timbul kata-kata yang terlontarkan dari ungkapan seorang wanita
yang disuka oleh seorang ridwan kecil, kata-kata yang sebenarnya menjadikan
seorang ridwan kecil tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, bukan malah tambah
melemah khususnya dalam urusan seperti ini, ungkapan itu,
“ Kamu
itu bukan level aku..!”
“Kamu itu tak berpengalaman soal cinta..!”.
Kecewa? Jelas! Tapi bagi seorang Ridwan kecil dulunya,
kata-kata seperti ini menjadi sajian motivasi yang sifatnya alami. Dengan
begitu, seorang Ridwan kecil akan selalu belajar menjadi pribadi yang lebih
baik lagi dalam meningkatkan kualitas diri. Karna tak ada manusia yang
sempurna, apa yang ada pada diri kita, baik itu sikap, prilaku, maupun kehidupan yang ada, inilah
kita apa adanya. Lagian yang namanya
prinsip didalam diri itu harus sangat berperan penting didalamnya, sebuah
prinsip inilah yang harus ada. Bisa dibilang, inilah kunci ketegaran diriku,
untuk urusan yang menyangkut perasaan seperti ini,
“
Jangan sampai rasa cinta kepada manusia,
melebihi rasa cinta kepada Allah”
Prinsip
inilah yang kuterapkan, menurutku tak mengapa kalau dia yang kita sayangi itu
mengabaikan kita, yang terpenting jangan Allah yang mengabaikan kita, karna dialah
Sang Maha Pemilik Cinta Sejati.
Dan
akhirnya apa yang dinantipun datang juga, dengan segala kelebihan maupun
kekurangan yang ada dalam diriku, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan apa
yang aku rasakan kepada diri Laras. Aku sempat gugup akan kejadian ini, maklum
saja sudah lama aku tak merasakan momen seperti ini. Akupun langsung
mendekatinya, ketika kegiatan yang biasa kami lakukan beserta anak-anak di
taman bacaan senyuman mentari selesai.
“ Ras, boleh gak? minta waktunya
sebentar!”
“Soalnya ada sesuatu yang ingin
disampaikan..?”
pintaku.
Perasaanku
pun menjadi tak karuan, hatiku mulai berdegum kencang.
“Iya, boleh wan..!” jawabnya.
Dag
dig dug, inilah suara hatiku. Lalu dengan mantapnya diriku mengungkapkan
perasaannya kepada Laras dan tak lupa Basmallah terlantun lembut dari bibirku, dengan
harapan semoga perasaan ini mendapatkan berkah dari Sang Maha Pemberi Kehidupan
untuk diri kami berdua.
“Bismillahhirrahmanirrahiim..”
“Hmm,, Ras! Jujur..! diri ini tak bisa menutupi keinginannya untuk mengeluarkan apa yang dirasakannya..”
“Dan Insya Allah..! ini adalah waktu yang tepat untuk
mengungkapkan.. bahwa diri ini telah lama jatuh hati padamu.. diri ini sayang padamu..” Sambil ku tatap matanya.
Ekspresi
yang dikeluarkan Laras, ketika mendengar apa yang aku katakan kepadanya, hanya
berupa senyuman manis. Dan pastinya bagiku, senyumannya itu mengandung banyak
arti. Akupun menjadi penasaran dengan apa selanjutnya yang terjadi. Lalu
kemudian,
Laras
pun berkata,
“Terima
kasih wan..!”
“ Apa yang kamu katakan itu..? jujur saja..! membuat hati Laras merasa senang..” Laras menghargai itu semua..!”
“Dan dengan keyakinan.. Insya Allah..! “
“Laras.. menerima itu semua..!”
Betapa
bahagianya aku, ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut seorang
wanita yang penuh kesahajaan
dan kesan kesederhanaan ini.
“Alhamdulillah..!”
“ Terima kasih Ras..?”
“Telah menerima kekurangan maupun
kelebihan dari seorang Ridwan..!” ucapku.
“Terima kasih kembali wan..!”
“Ridwan
juga menerima kekurangan maupun kelebihan Laras..!”
“Tapi wan..! Yang perlu di ingat..?
“Apa yang terjadi sekarang..! Ini adalah atas restu dari Allah..!”
“Kita tak boleh
lupa akan hal itu..?
“Mungkin..! Kalau seandainya tak direstui oleh
Allah..?,
kita tak mungkin bisa sampai ke tahap ini..!”Jawabnya.
“ Subhanallah..!
Insya Allah..! kamu seorang yang tepat buatku..!” ucapku.
“ Aamiin..! Insya Allah kamu juga demikian Wan..!” ucapnya.
“Aamiinn Ya Rabb”
Disela-sela percakapan kami,
Tenyata
gerak-gerik ku, diketahui oleh beberapa temanku. Mereka mulai menyindir kami
berdua.
“Yang lagi berbunga-bunga..!” sahut,
salah satu temanku.
Memang
mereka mengetahui, bahwa aku menyukai Laras. Dan mereka menyadari, pasti aku
sedang mengungkapkan perasaanku terhadap Laras. Dan mereka sangat mendukungku,
itulah teman-temanku.
Setelah
kejadian itu, aku dan Laras pun semakin akrab saja. Seperti tak sangka jadinya,
bila seorang Ridwan mampu diterima perasaannya oleh seorang wanita seperti
Laras. Mungkin inilah buah manis dari kesabaranku, yang dulunya seorang Ridwan
sering terabaikan, sering kecewa, sering ditolak, sering patah
hati oleh beberapa wanita. Tapi kini,
dengan perlahan seorang Ridwan mampu berkata,
“Maaf..!
“Jika
membuat kalian menyesal..!”
Akhirnya
sebutir harapan itu, mampu menembus impian. Inilah yang disebut sebagai karunia
dari Sang Maha Pemberi Kehidupan. Aku
dan impian ku, telah menjadi bagian dari kenyataan yang tak terpisahkan. Semuanya
secara perlahan, satu persatu, apa yang aku inginkan, apa yang aku impikan
telah tercapai. Termasuk membawa ibunda tercintaku, pergi ke
tanah suci Mekkah untuk beribadah. Usaha yang aku geluti pun, dengan izin Allah
berjalan dengan lancar. Dan aku pun telah hidup bersama dengan Laras yang telah
aku nikahi, dalam do’a yang berisikan kasih sayang. Sekian!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar