Senin, 12 Mei 2014

Matahari Seakan Tersenyum





Sebutir Harapan Penembus Impian...
( Cerita Inspiratif )


by Bagas.

 

              Ridwan  Jaelani namaku, atau sering dipanggil dengan nama Ridwan. Aku berprofesi sebagai mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di kotaku, Universitas Samudra tepatnya. Selain berprofesi sebagai seorang mahasiswa, aku juga memiliki profesi sampingan, yaitu sebagai abang penjual bakso yang selalu mangkal di perempatan sudut taman kota. Tak jarang aku juga menjajakan daganganku itu, sambil kudorong gerobak hingga berkeliling kesana kemari. Hal ini kulakukan, sebelum aku mangkalkan daganganku ditempat biasa.
              Dalam keseharianku ini, aku harus pintar membagi waktu sebaik-baiknya. Mengingat aku merupakan seorang mahasiswa, yang pastinya tak terlepas dari aktivitas kampus sekaligus  sebagai abang penjual bakso, di perempatan sudut jalan sana. Dimana biasanya waktu dari pagi hingga siang, aku selalu berkutat dengan yang namanya perkuliahan, dan terlepas dari waktu luar kampus ketika sore mulai menjelang, aku telah siap-siap untuk menjajakan dagangan baksoku dan tak jarang hingga sampai larut malam ini kulakukan, besok paginya aku harus kembali kuliah. Terkadang diriku menyadari, terasa letih bercampur lelah memang, tapi apa boleh buat namanya juga hidup untuk mencapai kesuksesan pasti butuh yang namanya proses.
              Bagiku, pendidikan itu harus bisa semaksimal mungkin ku raih. Karena dengan komitmen yang tinggi yang kumiliki, dengan ilmu pengetahuan yang telah kudapat, aku harus bisa menjadi seorang yang dapat dibanggakan bagi keluarga dan bisa bermanfaat bagi orang banyak. Semangat itu kutempuh, dari jalur pendidikan yang aku geluti mulai dari sekolah dasar hingga bangku keluarga kuliahan ini. Ditambah lagi, saat ini aku menjadi tulang punggung keluarga, menggantikan peran bapakku yang telah tiada. Bebanku seakan semakin menjadi-jadi dan terasa berat saja. Karna akulah harapan yang saat ini paling diandalkan dalam keluarga terutama oleh ibuku, mengingat aku merupakan anak tertua dari orang tuaku. Aku memiliki orang tua yang hanya berpenghasilan dari pedagang kelapa. Hal  Itu terjadi ketika bapak masih ada. Ketika bapak telah tiada, ibuku menggantungkan hidupnya dari berjualan sapu lidi di pasar.
              Aku memiliki tanggungan, selain ibuku ada tiga orang adikku yang masih butuh biaya untuk makan dan sekolah mereka. Sebagai seorang anak, aku haruslah berbakti kepada orang tua. Dan sebagai seorang abang, haruslah menaruh tanggung jawab kepada adiknya,sikap itulah yang  selalu kutanamkan dalam diriku. Apalagi jika selesai shalat maghrib, aku selalu teringat akan nasihat dari bapak,
  Nak, kamu harus jadi orang yang sukses, baik itu di dunia maupun di akhirat, yang kelaknya dapat bermanfaat bagi keluargamu, maupun orang lain. Tuntutlah ilmu setinggi-tingginya, sebaik mungkin. Walaupun kita miskin, janganlah kamu merasa enggan, takut dan khawatir. Selagi ilmu yang kamu tuntut itu berada di jalan kebenaran, gapai dan ajarkan kepada orang yang membutuhkan. Insya Allah dengan rahmat dan karunianya, hidupmu tak akan sedikitpun merasa kekurangan. Walaupun saat ini kita berada di dalam serba kekurangan itu, tapi Allah SWT itu maha pengasih dan maha penyayang. Ingat nak! dia tahu apa yang di inginkan hambanya selagi mereka selalu berusaha dan mempunyai impian yang kuat untuk dapat berubah
              Nasihat dari bapak inilah, yang saat ini selalu terngiang-ngiang dalam benakku. Sekaligus menjadi sebuah motivasi berharga bagiku. Semoga amal dan ibadah bapak diterima disisimu ya Allah, Amiin.
              Perjalanan demi perjalanan dari hidupku selalu aku rekatkan dengan nasihat orang tua maupun nasihat dari agama. Ini kulakukan supaya hidupku selalu mendapat berkah dari Sang Maha Kuasa Dengan harapan supaya diri inipun tak salah langkah, dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh tipu daya ini. Tanpa terasa, perjalanan perkuliahanku hampir memasuki semester akhir. Ini berarti jika tidak ada halangan dan hambatan, Insya Allah aku bisa segera menjadi seorang sarjana.
              Selain ingin menjadi seorang sarjana, Lazimnya bak calon orang yang sukses aku mempunyai cita-cita maupun impian, dimana aku ingin menjadi orang sukses yang penuh rasa sosial dan memiliki kedermawanan yang tinggi. Mungkin ini hanya sebutir harapan yang berlandaskan doa dariku kepada Sang Maha Pemberi Kehidupan. Semoga saja, sebutir harapan ini dapat menjadi penembus impianku kelak dimasa akan datang. Sehingga dengan begitu, hidup ini semakin bermanfaat.
              Seiring  dengan hampir selesainya masa kuliahku, akupun masih sibuk mengurusi daganganku. Dagangan baksoku itu, telah menjadi sebuah rantai kehidupan bagiku. Karena dari hasil penjualan dagangan bakso inilah, biaya hidup sehari-hari keluarga maupun perkuliahanku aku gantungkan. Dibantu oleh ibuku, yang dengan rutinnya selalu menyempatkan diri untuk membantuku. Seakan tak kenal rasa lelah, dari penat hiruk pikuknya pasar, untuk menjual sapu lidi buatannya. Ibuku langsung menyempatkan waktunya, untuk bersiap-siap mengurus dagangan baksoku. Itu selalu dilakukannya, ketika aku masih berada dikampus. Ia tak menghiraukan rasa lelah yang hinggap ditubuhnya setiba sampai dirumah dengan menenteng dagangannya, dan langsung saja menyiapkan segala keperluan untuk daganganku sore nanti. Mulai dari membantu merebus bakso, merebus mie, dan menyiapkan bumbu-bumbu hingga mangkuk-mangkuk sebagai wadahnya. Melihat akan sosok ibuku, dia merupakan wanita yang  luar biasa bagiku.
          Tekad dan keinginanku semakin bulat saja, untuk selalu berbakti dan menyenangkan hatinya.Dimana aku mempunyai salah satu impian, untuk sebisa mungkin selalu membahagiakan beliau dan juga memberangkatkan beliau ke tanah suci mekkah untuk naik haji. Hal itu ingin ku berikan, Sebagai salah satu bentuk baktiku sebagai seorang anak kepada ibu. Walaupun aku tahu apa yang kulakukan ini, belum mampu membalas jasa dan pengorbanannya sebagai seorang ibu terhadap anaknya. Tapi yang kulakukan ini, adalah bukti bahwa aku menyayanginya. Terima kasih ibu, atas kasih sayangmu terhadapku.       
              Mengingat jauh ke belakang, dulunya dagangan baksoku ini bukan milikku. Tetapi, milik sanak keluargaku yang mempercayai dagangannya kepadaku. Aku hanya disuruh untuk menjajakannya, dengan upah 25 ribu setiap kali berjualan. Alhamdulillah dari upah 25 ribu itulah, sedikit demi sedikit aku bisa mengumpulkan uang untuk biaya masuk disalah satu PTN di kotaku, yang telah aku idam-idamkan sedari dulu sebelum aku menjadi seorang mahasiswa.
              Langkahku pun tak berhenti sampai di situ, dengan bermodalkan sisa-sisa dari tabunganku, ditambah modal keberanian dan keyakinan yang kuat. Akhirnya, aku bisa membuka dagangan bakso sendiri. Walaupun kecil-kecilan di kala itu, dan saat ini sudah ada perkembangan. Dan jadilah nama dagangan baksoku itu, dengan sebutan bakso Jali Ali yang selalu terpampang jelas di kaca gerobak yang sering nongol namanya diperempatan sudut taman kota. Nama Jali Ali sendiri merupakan nama singkatan, yang berarti “Jangan dilihati ayo beli”. Sengaja ku memakai nama itu, supaya ada ciri khas di setiap penyebutan nama untuk dagangan baksoku ini, sehingga orang-orang  gampang untuk mengingatnya.
              Aktivitas di dalam kampusku sendiri, merupakan aktivitas yang aku senangi, selain daripada aktivitas lain yaitu berjualan bakso. Karena di dalam kampus ini, selain aku mengikuti perkuliahan dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Disini juga aku bertemu dengan berbagai karakter anak negeri yang tentunya berpotensi menjadi orang besar, jika mereka mempunyai semangat juang untuk berhasil. Aku pun sering berinteraksi dengan mereka. Layaknya seorang mahasiswa yang aktif, tak jarang juga aku bertukar pikiran dengan mahasiswa lain, teman-temanku, atau juga para dosen. Biasanya yang terbahas mengenai pendidikan, ilmu pengetahuan, dan masalah sosial lainnya.  
               Tapi diantara dosen-dosen yang aku kenal, ada seorang dosen yang membuat aku mengaguminya. Walaupun dia bukan seorang dosen dari kampusku, dia bernama Pak Legiman. Menurutku Pak Legiman merupakan sosok yang sangat hebat, terutama dimataku. Dari cerita-cerita pengalaman yang aku dengar dari seorang temanku, memberikan sentuhan motivasi yang membuat aku lebih bersemangat lagi dalam menempuh yang namanya kesuksesan. Kisah dari perjalanan kehidupannya bermakna dari tiada menjadi ada. Biasanya aku juga selalu bertukar pikiran mengenai impian masa depan. Tak jarang, semangatku pun meluap-luap mencakup suatu perubahan yang terbaik dimasa depan. Karena menurutku, sebuah karya besar itu berawal dari yang namanya impian.
              Semangat yang selalu terpancar dari diriku, mengenai masa depan yang lebih baik. Ternyata diikuti juga oleh beberapa temanku di kampus maupun lain kampus. Senang rasanya bisa berbagi semangat bersama teman-teman sesama mahasiswa. Apalagi mereka merupakan teman-teman terbaikku, yang aku sendiri telah mengetahui karakter mereka masing-masing.
             
              Dan mereka adalah ,
  Ainun, Amin, Ayu, Bagas, Dedi Devi, Eva, Faisal, Feru, Intan, Khalidi, Nita, Opi, Rahmad, Reza, Riby, Risti, Rita, Sarah, Sari, Sugandha, Sulman, Syahrul, Yani, dan Yunus.

              Mereka-mereka inilah merupakan deretan nama dari beberapa bahkan ratusan ataupun ribuan, anak-anak negeri yang mempunyai visi dan misi dalam dedikasinya demi kemajuan bangsa di masa depan. Aku sangat bangga dan bersyukur  mengenal mereka, bagiku mereka adalah calon putra-putri terbaik bagi bangsa maupun negara.
              Setiap kali ada kesempatan, aku maupun teman-temanku pastilah  menggelar kegiatan sosial. Menurutku, kegiatan atas nama hati nurani seperti ini harus lebih sering di galakkan. Walaupun,  saat ini aku masih berjuang dalam kerasnya kehidupan. Tapi hatiku selalu tergugah untuk bisa menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Agamapun selalu mengajarkan seperti itu,
Sebaik-baiknya manusia ialah manusia yang bermanfaat bagi orang lain”.
              Dimana dalam kegiatan ini, nilai-nilai kehidupan yang terkandung didalamnya begitu istimewa. Sebab, kegiatan sosial yang kami lakukan merupakan ajang untuk meringankan beban penderitaan saudara-saudara kami yang membutuhkan. Tak jarang juga bakso-bakso dari dalam gerobak daganganku itu, dijadikan salah satu sarana saling berbagi bagi anak-anak yatim piatu di salah satu yayasan yatim piatu dikotaku. Dengan cara memberikan makanan, semangkuk demi semangkuk bakso gratis dan juga uang santunan kepada mereka.
              Indah terasa nian, bila kita bisa melakukan sesuatu yang sangat bermanfaat seperti ini. Apalagi bisa memberikan makan kepada anak yatim piatu, mengusap rambutnya saja sudah berpahala, apalagi bisa berbagi untuk sekedar menghibur seperti ini. Rasa syukur dan doaku pun tak henti-hentinya terlantun syahdu untuk kebesaran Sang Maha Pencipta,
  Alhamdulillah, Terima kasih ya Allah, engkau masih mengingatkanku dari indahnya saling berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Jadikanlah aku hambamu yang benar-benar bersyukur dan selalu ingat atas karuniamuAmiin.
              Kegiatan-kegiatan sosial yang aku dan teman-temanku lakukan, secara tidak sengaja mengantarkanku pada kisah romantika layaknya anak muda yang sedang kasmaran. Sebab, berawal dari kegiatan sosial ini. Aku dipertemukan oleh seorang wanita yang membuat isi hatiku berdetak degum kencang. Seorang wanita itu bernama Laras Indah Wati.
               Laras merupakan seorang wanita yang kulihat sangat bersahaja dan penuh dengan kesan kesederhanaan. Mungkin wanita seperti Laras inilah, yang kunanti saat ini. Awalnya perkenalanku dengan Laras terjadi ketika, aku dan teman-teman mendatangi sebuah taman bacaan bernama senyuman mentari.
              Kamipun saling berkenalan,,
          “Ridwan!” aku memperkenalkan diri, sambil mengajak bersalaman.
              “Laras!”  diapun membalasnya.
              Disini kami melakukan kegiatan, memberikan suguhan-suguhan berbentuk motivasi untuk anak-anak yang ambil bagian didalam taman bacaan ini. Dimana semuanya ini, bertujuan untuk sebisa mungkin mengarahkan kepada anak-anak di taman bacaan ini, untuk berani bermimpi dan mengetahui bagaimana caranya bisa merangkai mimpi-mimpi mereka, agar bisa menjadi apa yang mereka cita-citakan kelak.
              Pada kesempatan kali ini, temanku yang bernama Rita Susila yang memberikan suguhan motivasi.
              Rita pun mulai menyapa mereka, dengan memberikan salam.
              “Assalamualaikum..! Semuanya…?
          “Walaikum salam…!  mereka menjawab salam dengan  semangatnya.
              “Apa kabar semuanya hari ini...?”
                        “Alhamdulillah bu..! Baik..!” jawab mereka.
              Alhamdulillah..!” kalau begitu..?”
                        “Nah..! sekarang..! ibu mau tanyak..!”
              “Siapa yang disini..! Yang punya impian atau cita-cita?”
              “Saya bu..!”
                        “Saya!”
               “Saya!”
            “ Saya bu..!” mereka semua dengan cepatnya menunjuk tangan.
                        Wah..! Bagus sekali..!” Rita pun memuji mereka.
              Dan melanjutkan,
  Yang namanya impian atau cita-cita itu?
 harus ada didalam diri kita masing-masing?”
“Kenapa?”
“Karena, impian i
tu adalah sebuah kunci!
               “Kalau kita ingin jadi orang yang sukses kelaknya.”
              “Sebab!”
  “Impian inilah yang akan membawa kita pada suatu kecermelangan hidup!”
“Dimana?
Didalam sebuah impian itu, terdapat yang namanya tujuan dan harapan..
 yang Insya Allah? jika kita sungguh-sungguh meraihnya.. Dengan usaha dan do’a.. impian ini akan menjadi sebuah kenyataan”
              “Jadi?
              Mulai sekarang?
              beranilah bermimpi!”
                                    “Bermimpilah setinggi langit?”
                        “Jangan pernah takut jatuh!”
  “Walaupun kita jatuh..! Kita akan jatuh diantara bintang-bintang yang berkilauan!”
   “Kilauan bintang itulah, yang membawa kita untuk bangkit kembali”
              “Kilauan bintang itu adalah semangat diri kita!”
  “ Mulai dari sekarang!” marilah kita bersama-sama untuk selalu bersemangat meraih impian kita”
              “Setuju!” Rita pun mulai membakar semangat mereka.
  Setuju bu….!” Mereka pun meneriakkan dengan lantangnya.
              “Baiklah, kalau kalian setuju!”
  “Sekarang ibu minta..?” mari kita sama-sama menyanyikan lagu laskar pelangi..?” biar kita tambah semangat!”
“Ayo bu..! Jawab mereka.
“Ok! Satu.. dua.. tiga!” Rita memberikan aba-aba.

“Mulai!”


Mimpi.. adalah kunci.. untuk kita.. menaklukan dunia..”
“Menarilah.. tanpa lelah.. sampai engkau meraihnya..”
“Laskar.. pelangi.. takkan terikat.. waktu..”
“Bebaskan.. mimpimu.. diangkasa..”
“Warnai.. bintang di jiwa...”


                        “Menarilah.. dan terus.. tertawa..”
                        “Walau.. dunia.. tak seindah.. surga..”
                        “Bersyukurlah.. pada yang.. ku.. asa…”
                        “Cin..ta.. kita.. di dunia..”
                        “Se.. la..manya..” se..la..manya..”     

               Alhamdulillah, ketika kegiatan itu berlangsung, respon dari anak-anak sangat tinggi antusiasmenya. Dimana mereka mendengarkan dengan tenang dan tak jarang memberikan pertanyaan kepada kami. Peran laras sendiri di dalam kegiatan ini pun amat penting.
              Laras`sendiri ternyata penyuplai maupun penyumbang buku-buku bacaan ke taman bacaan senyuman mentari. Tak hanya buku-buku saja yang dia sumbangkan, tetapi pikiran maupun tenaga juga dia sumbangkan. Sebab, dia selalu berperan aktif dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak-anak itu. Takjub, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok wanita yang peduli dan mempunyai rasa sosial demi memajukan pendidikan bagi anak negeri. Dan cerminan itu, bisa dilihat dari sosok Laras yang begitu sederhananya. Dari taman bacaan senyuman mentari inilah, kami mulai saling berkomunikasi.
              Melihat latar belakang kehidupan dari Laras. Laras merupakan anak dari seorang kalangan atas, yang memiliki harta serba wah. Sangat jelas, bertolak belakang dengan latar belakang kehidupanku. Kupikir ketika pertama kali bertemu,Laras merupakan wanita dari kalangan orang biasa-biasa saja.Aku juga sempat merasa terkejut ketika mengetahuinya. Tapi sifatnya tidak menunjukan sifat ke glamoran, layaknya para wanita-wanita lain yang di kelilingi harta bergelimpangan yang hanya taunya hanya bisa berpoya-poya, shopping ataupun nongkrong-nongkrong di tempat yang elit atau gaul. Dengan gaya kesederhanaan yang dia miliki, Laras pun tidak canggung untuk berinteraksi dengan siapa saja, termasuk diriku. Selalu ada perasaan yang berbeda setiap kali aku melihat dan menatap matanya. Sungguh  sinar binar matanya memberikan gambaran betapa anggunnya dirinya. Akupun terkesima dibuatnya. Semakin dalam saja, perasaan hatiku terukir namanya.
              Pernah sewaktu-waktu di jam sore hari, Laras melintasi perempatan jalan taman kota.  Betapa kagetnya dia, ketika melihatku sibuk berjualan bakso dan melayani para pembeli. Lalu mengetahui bahwa, selain aku seorang mahasiswa yang sering melakukan kegiatan sosial, ternyata aku seorang abang penjual bakso. Diapun sempat singgah dan berkata,
  “Wah! Tak disangka! Seorang Ridwan ternyata memiliki usaha bakso..”
Aku pun tersenyum dan menjawabnya,
              Iya ni Ras, cuma usaha kecil-kecilan..”
              “Mari! Silakan duduk!”
               Lalu dia mengampiriku dengan senyuman manis diwajahnya dan menikmati semangkuk bakso dariku.
              Esoknya, dia datang kerumahku. Setelah kemarinnya sempat meminta alamat rumahku. Kebetulan, aku lagi tak ada waktu kampus dikarenakan hari libur. Kami pun mengobrol, seputar kehidupan kami dan tentang hal-hal lainnya. Selain mengobrol denganku, dia juga mengobrol dengan ibuku dan juga tak lupa  menyapa adik-adikku. Dalam sela-sela pembicaraan kami. Laraspun memujiku. Dia kagum akan semangat perjuangan hidupku.
              Waktu pun semakin berjalan dengan cepatnya, tak terasa perkenalanku dengan Laras pun semakin jauh saja. Akhirnya akupun tak sabar ingin mengungkapkan perasaan sayangku padanya. Perasaan bahwa aku telah lama jatuh hati padanya. Tapi kurasa, semua itu harus menunggu suatu yang tepat. Karena aku tak mau terlalu mengikuti rasa keinginanku, bisa saja ketika aku mengungkapkan rasa sayangku terhadapnya, itu bukanlah suatu yang tulus yang keluar dari dalam hatiku. Tapi lebih terbawa oleh nafsu semata saja. Jika terlalu mengikuti rasa keinginan, yang menggebu-gebu. Aku harus lebih sabar dan bijak. Tapi yang jelas, Laras merupakan sosok calon ibu yang tepat bagi anak-anak ku kelak. Diri ini tetap menunggunya untuk saat yang tepat, dan sekarang fokusku, ku optimalkan ke jenjang perkuliahanku terlebih dahulu. Dimana dalam perjalanannya ada sebuah impian maupun cita-cita yang harus kuraih. Jika semuanya itu telah terjadi, segala impian dan cita-citaku telah dapat teraih. Tanpa ada keraguan, aku bersiap menjadikan Laras sebagai ibu bagi anak-anakku.
              Tak terasa waktu kuliahku telah terselesaikan, kurang lebih hampir 4 tahun aku menghabiskan waktu dalam bangku perkuliahan. Kini aku sudah resmi, menjadi seorang sarjana. Senang rasanya dapat meraih salah satu impianku khususnya di dalam bidang pendidikan. Diri ini semakin percaya diri saja,untuk menjadikan diri ini bermanfaat bagi diriku sendiri maupun orang lain. Alhamdulillah, mungkin ini berkat do’a dan usaha kerasku, akhirnya keinginan menempuh pendidikan sebaik-baiknya dapat terealisasikan. Seiring dengan telah berhasilnya aku menjadi seorang sarjana, usaha baksoku mengalami perkembangan yang amat pesat. Dimana secara tidak sengaja, aku mendapatkan modal dari kenalanku yang berprofesi sebagai seorang pengusaha.
              Pengusaha itu bernama Zacky, awalnya kami dipertemukan lewat seminar umum yang diadakan oleh kampusku sebelum aku di wisuda. Kebetulan dia duduk di sebelahku, kamipun saling mengobrol untuk saling bertukar pikiran. Dia tertarik kepadaku setelah tahu bahwa aku mempunyai usaha bakso, lalu menyampaikan keinginannya untuk bekerja sama, dalam bidang usaha makanan dengan memberikan pinjaman modal dengan tujuan pengembangan usaha. Percakapanpun berjalan dengan alotnya, kami pun membuat kesepakatan setelah menyakinkan satu sama lain. Sehingga terjalinlah suatu kerja sama antara kami. Seminar umum dikampusku itu bertajuk, “ Pengusaha muda pembangun negeri “.
              Dalam seminar ini dibahas tentang, bagaimana peranan-peranan para pengusaha muda dalam dedikasinya terhadap kemajuan di negeri ini. Banyak tamu-tamu undangan yang hadir dalam acara seminar ini, tak terkecuali tokoh-tokoh nasional. Dan sosok tokoh yang hadir yaitu salah satu tokoh pendidikan di Indonesia, Bapak Anies Baswedan. Beliau merupakan pendiri maupun penggagas dari sebuah organisasi yang bernama Gerakan Indonesia Mengajar. Akupun sempat berbicara sedikit dan berjabat tangan kepadanya. Kebetulan pembicara pada kesempatan seminar umum ini yaitu salah satu tokoh pengusaha sukses Indonesia, Bapak Chairul Tanjung atau yang sering dikenal dengan sebutan si anak singkong, lewat nama dalam judul buku otobiografinya yang menjadi best seller.
              Bapak Chairul Tanjung menyempatkan diri untuk hadir, mengingat beliau banyak sekali kesibukkan diluaran sana. Pemilik CT Foundation dan Trans Corp inipun, berbicara dalam kesempatannya. Pentingnya sebuah peranan yang di hadirkan oleh para pengusaha muda. Dikarenakan, para pengusaha muda ini merupakan sebuah aset yang sangat berharga baik di masa sekarang maupun dimasa depan bagi kemajuan negeri, khususnya dalam sektor perekonomian. Dari sektor perekonomian inilah, bisa memunculkan gagasan-gagasan atau juga wacana yang kompeten dalam membuat sebuah rancangan bagi kemajuan perkembangan bagi bangsa ini. Misalnya saja dalam bidang pendidikan dengan cara memberikan bantuan beasiswa,  keseterdiaan lapangan pekerjaan dengan cara membuka usaha-usaha baru, dan juga pembangunan-pembangunan infrakstruktur yang terkait bagi kesejahteraan, yang sifatnya memajukan demi melancarkan target yang dipedulikan.
              Tak lupa di akhir pembicaraannya, beliau berpesan kepada kami agar para generasi muda haruslah menjadikan dirinya sebagai pilar-pilar pembangunan yang kuat, demi terciptanya kemajuan yang membawa ke perubahan, agar kelaknya dapat menjadikan dirinya suatu yang dapat dibanggakan maupun bermanfaat bagi negara ini. Hal itu dapat terealisasikan, salah satunya jika menjadi seorang pengusaha.
              Hari-hari dalam perjalanan hidupku, semakin lama semakin lapang saja. Beban-beban hidup yang dulunya terasa berat, kini semakin ringan saja. Alhamdulillah, hidupku telah ada perubahan. Kini aku tak lagi berjualan bakso diperempatan taman kota lagi, melainkan berjualan di dalam ruko yang aku tempati. Tapi, kesan dagangan bakso dari cara lamaku tetap ku pertahankan. Dimana gerobak, yang berhias nama Jali Ali tetap terpajang disana. Hal ini kulakukan, karena gerobak baksoku itu merupakan salah satu bukti perjuanganku dalam bertahan hidup, yang akan selalu terkenang.
              Tak hanya bakso yang kini aku jual, banyak menu-menu makanan atau minuman yang baru dan variatif yang aku tawarkan kepada pengunjung. Ini kulakukan mengingat, banyaknya permintaan konsumen akan makanan atau minuman yang variatif. Tapi menu utama dari usahaku tetap bakso jali ali. Terbukti, pengunjungpun semakin ramai saja berdatangan. Mulai dari kalangan biasa, sampai orang-orang penting, pernah singgah untuk menikmati menu-menu makanan atau minuman yang ditawarkan dari usaha makananku ini. .
              Tak kusangka, berkat usaha, doa dan kerja kerasku yang selama ini kulakukan, akhirnya apa yang aku cita-citakan dahulu, lambat laun menjadi sebuah kenyataan. Alhamdulillah, rasa syukurkupun tak henti-hentinya terlantun untuk kebesaran Sang Maha Pencipta. Apa yang terjadi sekarang, semakin saja mempermudahkanku didalam urusan kegiatan sosial. Kegiatan-kegiatan sosial yang sekarang kulakukan, jangkauannya semakin luas saja. Kini aku telah dapat mendirikan taman bacaan yang telah aku idam-idamkan sejak lama. Taman bacaan Sang Pemimpi namanya.Taman bacaan ini tak hanya aku sendiri yang mengurusnya. Akan tetapi, aku dibantu oleh beberapa temanku yang mempunyai visi maupun misi yang sama sepertiku.
              Taman bacaan yang kudirikan dan kegiatan-kegiatan sosial yang terdapat didalamnya, ternyata tanpa ku menduga terpantau oleh sebuah acara televisi dari stasiun televisi swasta, Metro Tv. Dan aku sebagai pendiri dari taman bacaan, di undang untuk dapat hadir diacara tersebut sebagai narasumber. Dimana acara televisi tersebut merupakan sebuah tayangan inspiratif, yang dipandu oleh Andy F.Noya dalam acaranya Kick Andy.
              Dalam kesempatan inipun, aku bersedia datang ke sana, lalu langsung melakukan sesi persiapan untuk acara Kick Andy ini. Banyak sekali yang mengapresiasikan kedatanganku, ketika aku datang kesana. Sebelum acara dimulai, mulai dari kru sampai produser memberikan sambutan kepadaku. Tak Ketinggalan juga bang Andy pun memberikan sambutan hangatnya. Akhirnya yang dinanti-nantipun datang juga, didalam studio akupun langsung di panggil oleh bang Andy. Setelah dia membuka acara, dengan judul “Berdedikasi Demi Negeri”. Kita panggilkan Ridwan, bang Andy pun memanggil namaku. Tepuk tangan penonton didalam Studio pun menggelegar kesana kemari memenuhi isi studio.
              Langsung saja, ketika aku telah duduk sesaat, Aku diberikan beberapa pertanyaan oleh Bang Andy, salah satunya pertanyaan tentang mengapa mendirikan Taman Bacaan. Bang Andy pun bertanya kepadaku,
  Kok bisa sih, seorang Ridwan ini. Ada keinginan untuk mendirikan Taman Bacaan? Padahal, Anda kan seorang pengusaha  yang pastinya selalu sibuk dengan bisnis-bisnis yang sedang dijalani, terutama bisnis makanan yang anda kelola”.

Aku pun memberikan jawaban ,
  Saya mempunyai keinginan dalam hidup , agar hidup saya ini, bisa bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Kitapun sudah mengetahuinya, dalam agamapun mengajarkan seperti demikian. Jadi, melalui taman bacaan yang saya dirikan ini. Semoga saja, dapat menjadikan sarana pengetahuan dalam mencetak anak-anak negeri yang unggul, cerdas, kompeten dan bersiap bersaing di era globalisasi yang semakin berkembang ini. Khususnya dimasa yang akan datang. Hal ini bertujuan, demi membawa kearah perubahan yang lebih baik dan mengantarkan pada kemajuan bangsa”.
               Sontan saja ketika aku selesai bicara, para penonton bertepuk tangan mengaspresiasikan jawaban dariku. Tepuk tangan dari ratusan penonton yang hadir, semakin membuatku semangat untuk bisa berbuat suatu yang lebih bermanfaat lagi kedepannya. Akhirnya acara Kick Andy pun selesai, setelah satu per satu bang Andy memanggil tamu yang terdiri dari beberapa narasumber yang berbeda. Sebelum berpisah meninggalkan studio, bg Andy pun meminta untuk berfose bersamaku.
              Biar jadi kenangan wan.  Kata dia sambil tersenyum.
Lalu aku pun berpamitan dengan bg Andy dan kru maupun produser untuk meninggalkan studio.
              Dari acara kick Andy inilah, dimana aku langsung menjadi narasumbernya. Secara perlahan memberikan dampak baik yang begitu signifikan. Karena banyak orang yang telah mengetahui adanya sebuah taman bacaan yang bernama Sang Pemimpi. Banyak organisasi maupun perusahaan bahkan perorangan, yang ingin memberikan sumbangsihnya untuk taman bacaan ini. Tak ketinggalan juga, ternyata sekelas Menteri BUMN yaitu bapak Dahlan Iskan. Ingin berpartisipasi dalam taman bacaan ini. Beliau memberikan sumbangsihnya lewat program gerakan 1000 buku, yang ada dibawah naungan Kick Andy Foundation, dengan menyumbangkan buku tentang dirinya yang berjudul Sepatu Dahlan, akupun menerimanya dengan senang. Karna semakin bertambah saja koleksi buku-buku yang variatif maupun inspiratif yang memenuhi rak-rak  dan lemari-lemari dari taman bacaan ini. Terima kasih Pak Dahlan atas partsipasinya.
              Cerita maupun kisah tentang seputar kehidupanku yang aku paparkan melalui acara Kick Andy, ternyata membuat seorang penulis tertarik akan kisahku. Dia adalah Raditya Dika. Seorang penulis muda yang kreatif dan penuh imajinasi, bahkan seorang comic (Stand up Comedy) yang saat ini di gandrungi oleh  para generasi muda.  Dia mendatangi ku langsung, saat aku berada di taman bacaan Sang Pemimpi. Betapa kagetnya aku, ketika seorang public figure seperti dirinya, rela-rela datang jauh-jauh dari ibukota Indonesia yaitu Jakarta ke tanah Aceh tepatnya kota Langsa menuju ke taman bacaan Sang Pemimpi. Dia mengungkapkan keinginannya untuk mengangkat kisahku dengan dijadikan sebuah novel. Aku pun merasa tersanjung dengan keinginannya itu. Dan jadilah novel dari kisahku itu, dengan judul Jali Ali “ Jangan dilihati Ayo Beli” karya Raditya Dika.
              Perjalanan dari seputar kehidupanku pun masih berlanjut, di sela-sela kesibukkanku sebagai seorang pengusaha dan pengurus taman bacaan. Diri ini tak lelah, untuk selalu memikirkan caranya untuk selalu berbenah diri. Karena menurutku berbenah diri itu, memang sangat diperlukan. Supaya untuk kedepannya bisa menjadi lebih baik lagi. Untuk mempermudahkanku dalam bebernah diri, aku mempunyai keinginan untuk menyaksikan tayangan motivasi. Aku ingin mendatangi sebuah program yang ada di stasiun televisi swasta, Metro Tv dan menontonnya secara langsung. Dimana acara ini bernama Golden Ways dipandu oleh presenter, Hilbram Dunar dan seorang Motivator terkenal Pak Mario Teguh. Program ini merupakan sebuah acara yang menyuguhkan segala bentuk motivasi menurut kebutuhan dan keperluan yang disampaikan langsung oleh Pak Mario Teguh.
              Ketika acara telah berlangsung, Pak Mario Teguhpun tak segan-segan mengeluarkan kata-kata mutiara miliknya,
   Aku Tahu aku tidak seutuhnya sempurna, Tapi pasti ada sesuatu dalam diriku yang sangat indah. Tuhan mampukanlah aku untuk menggunakan sekecil-kecilnya kemampuanku untuk mencapai sebesar-besarnya cita-citaku
              Dan langsung saja memukau orang-orang yang ada didalam studio. Tak terkecuali aku, akupun sangat terkesima dibuatnya. Kata-kata nan bijak dan memukau yang aku dengar langsung dari mulut orang bijak yang kulihat. Suguhan motivasi yang diberikan oleh beliaupun, semakin membuatku bersemangat dalam menyambut hari esok yang lebih baik lagi. Terima kasih ya Allah, Kau telah membuat hidupku semakin berwarna saja. Rasa syukurku pun tak bisa tertahan oleh kata-kata.
              Setelah aku melihat acara Mario Teguh Golden Ways, akupun kembali ke kotaku. Dengan menaiki pesawat, aku menuju ke bandara. Tapi disaat aku menunggu waktu pesawat lepas tandas, aku dikejutkan oleh seorang wanita yang sangat tak asing dimataku. Dia adalah seorang Laras yang kukenal.
              Laras!” aku pun menegurnya.
              He! Ridwan disini juga rupanya?” jawabnya.
             
               Wah indah nian terasa, disaat seperti ini aku bisa berjumpa kembali bersama dia. Cerita punya cerita, Laras ternyata melanjutkan studinya di salah satu Universitas ternama Indonesia. Dan sekarang studinya telah selesai, dia seakan ditakdirkan kembali untuk menjadi bagian dari sejarah hidupku.
              Kini aku sangat yakin bahwa Laras memang benar-benar sesosok wanita yang kuharapkan mampu menjadi pendampingku, khususnya dalam kehidupan sehari-hari yang ku jalani ini. Wah, sungguh bersyukur diriku ini. Jika memang Sang Maha Pemberi cinta merestui hubunganku bersamanya. Tak lepas pandanganku melihat keanggunan dari wajahnya, yang seakan memancarkan kesan kasih sayang. Kata kedamaian, inilah kata yang tepat untuk menggambarkan ungkapan hatiku untuk seorang wanita yang bernama Laras.Terima kasih ya Allah, engkau telah mempertemukan aku dengan dirinya.
              Dalam kesehariannya pasca sarjana, Laras mulai kembali aktif melakukan kegiatan-kegiatan yang sering dia lakukan yaitu mengurusi taman bacaan senyuman mentari. Dia pun tak enggan meminta bantuanku, untuk sekedar memberikan beberapa suguhan-suguhan yang berguna, baik itu bersifat moril maupun inspiratif demi kelancaran taman bacaan senyuman mentari sendiri. Sungguh diri ini merasa berbahagia, jika diri ini bisa melakukan sesuatu yang bernilai positif bagi orang lain. Apalagi bisa melakukan sesuatu yang bernilai positif , dilakukan bersama-sama dengan seseorang yang kita sayang,  hmm.. benar-benar sebuah pendekatan diantara kami, yang Insya Allah menjadi berkah bagi kami berdua. Semoga saja.
              Hari-hari yang kujalani ini secara pribadi, memberikan kesan tersendiri khususnya bagi diriku. Bisa dibilang, dalam keseharianku ini apa yang kulakukan semakin memberikan warna atau corak yang begitu jelas didalamnya. Hal ini telah tersadari oleh dirku, ketika seseorang itu, mulai mengisi kekosongan hati akan indahnya kasih sayang. Padahal jika mengingat akan masa laluku, yang berhubungan menyangkut perasaan. Bisa dibilang, lebih banyak gagalnya dibandingkan suksesnya. Tapi aku menanggapi itu semua dengan sebuah kalimat,
               Semua itu karena Allah”. Cukup!
              Salah satu dari ceritaku tentang gagalnya menjalin sebuah hubungan dimulai dari, ketika aku mulai  merasakan saat indahnya jatuh hati kepada seorang wanita, tapi apa boleh buat seorang ridwan kecil belum mampu membuat hati seorang wanita yang di rasa di sayanginya menjadi bergetar. Malah timbul kata-kata yang terlontarkan dari ungkapan seorang wanita yang disuka oleh seorang ridwan kecil, kata-kata yang sebenarnya menjadikan seorang ridwan kecil tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, bukan malah tambah melemah khususnya dalam urusan seperti ini, ungkapan itu,
               Kamu itu bukan level aku..!
              Kamu itu tak berpengalaman soal cinta..!”.
              Kecewa? Jelas! Tapi bagi seorang Ridwan kecil dulunya, kata-kata seperti ini menjadi sajian motivasi yang sifatnya alami. Dengan begitu, seorang Ridwan kecil akan selalu belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam meningkatkan kualitas diri. Karna tak ada manusia yang sempurna, apa yang ada pada diri kita, baik itu sikap, prilaku, maupun kehidupan yang ada, inilah kita apa adanya. Lagian  yang namanya prinsip didalam diri itu harus sangat berperan penting didalamnya, sebuah prinsip inilah yang harus ada. Bisa dibilang, inilah kunci ketegaran diriku, untuk urusan yang menyangkut perasaan seperti ini,
Jangan sampai rasa cinta kepada manusia, melebihi rasa cinta kepada Allah
              Prinsip inilah yang kuterapkan, menurutku tak mengapa kalau dia yang kita sayangi itu mengabaikan kita, yang terpenting jangan Allah yang mengabaikan kita, karna dialah Sang Maha Pemilik Cinta Sejati.
              Dan akhirnya apa yang dinantipun datang juga, dengan segala kelebihan maupun kekurangan yang ada dalam diriku, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan kepada diri Laras. Aku sempat gugup akan kejadian ini, maklum saja sudah lama aku tak merasakan momen seperti ini. Akupun langsung mendekatinya, ketika kegiatan yang biasa kami lakukan beserta anak-anak di taman bacaan senyuman mentari  selesai.
              “ Ras, boleh gak? minta waktunya sebentar!”
              “Soalnya ada sesuatu yang ingin disampaikan..?pintaku.
              Perasaanku pun menjadi tak karuan, hatiku mulai berdegum kencang.
              Iya, boleh wan..!” jawabnya.
              Dag dig dug, inilah suara hatiku. Lalu dengan mantapnya diriku mengungkapkan perasaannya kepada Laras dan tak lupa Basmallah terlantun lembut dari bibirku, dengan harapan semoga perasaan ini mendapatkan berkah dari Sang Maha Pemberi Kehidupan untuk diri kami berdua. 
              “Bismillahhirrahmanirrahiim..”
  “Hmm,,  Ras! Jujur..! diri ini tak bisa menutupi keinginannya  untuk mengeluarkan apa yang dirasakannya..”
“Dan Insya Allah..! ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan.. bahwa diri ini telah lama jatuh hati padamu.. diri ini  sayang padamu..” Sambil ku tatap matanya.
              Ekspresi yang dikeluarkan Laras, ketika mendengar apa yang aku katakan kepadanya, hanya berupa senyuman manis. Dan pastinya bagiku, senyumannya itu mengandung banyak arti. Akupun menjadi penasaran dengan apa selanjutnya yang terjadi. Lalu kemudian,
                   Laras pun berkata,
       Terima kasih wan..!”
“ Apa yang kamu katakan itu..? jujur saja..! membuat hati Laras merasa senang..” Laras menghargai itu semua..!”
              Dan dengan keyakinan.. Insya Allah..! “
              “Laras.. menerima itu semua..!
              Betapa bahagianya aku, ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut seorang wanita yang penuh kesahajaan dan kesan kesederhanaan ini.
  Alhamdulillah..!”
Terima kasih Ras..?”
“Telah menerima kekurangan maupun kelebihan dari seorang Ridwan..! ucapku.
              “Terima kasih kembali wan..!
  “Ridwan juga menerima kekurangan maupun kelebihan Laras..!
“Tapi wan..! Yang perlu di ingat..?
“Apa yang terjadi sekarang..! Ini adalah atas restu dari Allah..!
“Kita tak boleh lupa akan hal itu..?
  “Mungkin..! Kalau seandainya tak direstui oleh Allah..?, kita tak mungkin bisa sampai ke tahap ini..!Jawabnya.
“ Subhanallah..!
Insya Allah..! kamu seorang yang tepat buatku..!” ucapku.
“ Aamiin..! Insya Allah kamu juga demikian Wan..!” ucapnya.
“Aamiinn Ya Rabb”
Disela-sela percakapan kami,
              Tenyata gerak-gerik ku, diketahui oleh beberapa temanku. Mereka mulai menyindir kami berdua.
              Yang lagi berbunga-bunga..!sahut, salah satu temanku.
              Memang mereka mengetahui, bahwa aku menyukai Laras. Dan mereka menyadari, pasti aku sedang mengungkapkan perasaanku terhadap Laras. Dan mereka sangat mendukungku, itulah teman-temanku.
              Setelah kejadian itu, aku dan Laras pun semakin akrab saja. Seperti tak sangka jadinya, bila seorang Ridwan mampu diterima perasaannya oleh seorang wanita seperti Laras. Mungkin inilah buah manis dari kesabaranku, yang dulunya seorang Ridwan sering terabaikan, sering kecewa, sering ditolak, sering patah hati oleh beberapa wanita. Tapi kini, dengan perlahan seorang Ridwan mampu berkata,
              Maaf..!
              Jika membuat kalian menyesal..!”
              Akhirnya sebutir harapan itu, mampu menembus impian. Inilah yang disebut sebagai karunia dari Sang Maha Pemberi Kehidupan. Aku dan impian ku, telah menjadi bagian dari kenyataan yang tak terpisahkan. Semuanya secara perlahan, satu persatu, apa yang aku inginkan, apa yang aku impikan telah  tercapai.  Termasuk membawa ibunda tercintaku, pergi ke tanah suci Mekkah untuk beribadah. Usaha yang aku geluti pun, dengan izin Allah berjalan dengan lancar. Dan aku pun telah hidup bersama dengan Laras yang telah aku nikahi, dalam doa yang berisikan kasih sayang. Sekian!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar